Jumat, 04 April 2008

Teknologi Informasi dan Komunikasi Jadi Pelajaran Wajib SMA

Jakarta, Sinar Harapan
Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi atau Information Communication Technology (ICT) akan diberlakukan sebagai mata pelajaran wajib di Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun 2005.

Pernyataan ini disampaikan oleh Direktur Pendidikan Menengah Umum Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah Zamroni usai membuka lokakarya pengembangan Associated School Project Network (iEARN) yang dikembangkan oleh Unesco, Rabu (23/6).
Menurutnya, hal ini dilakukan sesuai dengan tuntutan kurikulum 2004 yang menekankan kompetensi lulusannya pada salah satu mata pelajaran. Saat ini ada sekitar 2.500 SMA negeri dan 2.000 SMA swasta di seluruh Indonesia yang sudah memiliki komputer yang mendukung ICT.
”Jadi seluruh SMA negeri di Indonesia sudah siap dengan ICT, sedangkan SMA swasta baru 50 persen yang siap dengan program tersebut. Meski demikian, banyak yang berpandangan mengajar ICT pada siswa SMA kita akan rugi karena program yang diajarkan tidak dipakai lagi saat mereka lulus. Namun paling tidak kita sudah memberi mereka kemampuan dasar komputer dan kalau ada pengembangan, mereka tinggal mengikuti saja sebab dasarnya sudah ada,” ujarnya.
Oleh sebab itu, guna mendukung program ICT, pemerintah akan memberikan block grant bagi sekolah-sekolah yang belum memiliki perlengkapan tersebut.
Sementara itu, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk Unesco Arief Rahman menegaskan pemberlakukan kurikulum ICT jangan sampai mempertajam disparitas antarsekolah. Menurutnya, meski ICT sangat penting, tapi bahayanya adalah munculnya masyarakat digital divided (perbedaan digital), ada masyarakat yang memiliki akses dan ada yang tidak.
”Jangan sampai kita terjebak pada sekolah ICT dan non-ICT karena masih banyak ilmu yang harus diperoleh siswa,” ujarnya. Menurutnya, fenomena ke arah itu telah terjadi di dunia global.
Anak-anak di negara maju sudah terbiasa menggunakan ICT, sedangkan anak-anak di negara miskin sama sekali tidak tersentuh. Untuk itu, salah satu hal yang harus dilakukan adalah membuka keran informasi seluas-luasnya.
Informasi yang ada tidak boleh selalu melalui teknologi. Informasi non teknologi juga harus dikembangkan sehingga anak-anak yang tidak terjangkau teknologi dapat tetap mengakses informasi. ASPNet yang dikembangkan Unesco di antaranya bertujuan untuk meningkatkan kontribusi sekolah dalam memecahkan masalah dunia. Dari hubungan yang terjalin antarsekolah, diharapkan lahir ide kreatif yang dapat memecahkan beragam persoalan.
Menurutnya, program ini menghubungkan sekolah-sekolah di seluruh dunia dengan akses teknologi dan dilaksanakan di bawah koordinasi Unesco. Dengan begitu sekolah dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan berbagai negara misalnya ada sekolah yang mengadakan penelitian untuk memetakan anak putus sekolah di daerah lingkungan sekolah.
Saat ini anggota iEARN sudah mencapai 20.000 sekolah dari 100 negara. Sekolah di Indonesia yang masuk ke jaringan tersebut baru 33 sekolah. Lokakarya yang berlangsung 21-24 Juni ini sebanyak 20 sekolah dilatih untuk masuk ke program tersebut. Sekolah-sekolah yang dilatih adalah sekolah-sekolah yang memiliki sarana pendukung.

Tidak ada komentar: